Terbaru

Senin, 04 Maret 2019

Cerita Dewasa Sosok Yang Supel dan Genit

Cerita Dewasa Sosok Yang Supel dan Genit - Hallo sahabat Cerita Dewasa Terupdate, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Cerita Dewasa Sosok Yang Supel dan Genit, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel cerita dewasa, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Cerita Dewasa Sosok Yang Supel dan Genit
link : Cerita Dewasa Sosok Yang Supel dan Genit

Baca juga


Cerita Dewasa Sosok Yang Supel dan Genit


Sebagai anak ABG yang mengikuti trend masa kini, Monik sangat gemar memakai pakaian yang serba ketat termasuk juga seragam sekolah yang dikenakannya sehari-hari. Rok abu-abu yang tingginya beberapa senti di atas lutut sudah cukup menyingkapkan kedua pahanya yang putih mulus, dan ukuran roknya yang ketat itu juga memperlihatkan lekuk body tubuhnya yang sekal menggairahkan.

Penampilannya yang aduhai ini tentu mengundang pikiran buruk para laki-laki, dari yang sekedar menikmati kemolekan tubuhnya sampai yang berhasrat ingin menggagahinya. Salah satunya adalah Parno, si tukang becak yang mangkal di depan gang rumah Monik. Parno, pria berusia 40 tahunan itu, memang seorang pria yang berlibido tinggi, birahinya sering naik tak terkendali apabila melihat gadis-gadis cantik dan seksi melintas di hadapannya.

Sosok pribadi Monik memang cukup supel dalam bergaul dan sedikit genit termasuk kepada Parno yang sering mengantarkan Monik dari jalan besar menuju ke kediaman Monik yang masuk ke dalam gang.

Suatu sore, Monik pulang dari sekolah. Seperti biasa Parno mengantarnya dari jalan raya menuju ke rumah. Sore itu suasana agak mendung dan hujan rintik-rintik, keadaan di sekitar juga sepi, maklumlah daerah itu berada di pinggiran kota YK.

Dan Parno memutuskan saat inilah kesempatan terbaiknya untuk melampiaskan hasrat birahinya kepada Monik. Ia telah mempersiapkan segalanya, termasuk lokasi tempat dimana Monik nanti akan dikerjai. Parno sengaja mengambil jalan memutar lewat jalan yang lebih sepi, jalurnya agak jauh dari jalur yang dilewati sehari-hari karena jalannya memutar melewati areal pekuburan.

“Lho koq lewat sini Pak?”, tanya Monik.

“Di depan ada kawinan, jadi jalannya ditutup”, bujuk Parno sambil terus mengayuh becaknya.

Dengan sedikit kesal Monik pun terpaksa mengikuti kemauan Parno yang mulai mengayuh becaknya agak cepat. Setelah sampai pada lokasi yang telah direncanakan Parno, yaitu di sebuah bangunan tua di tengah areal pekuburan, tiba-tiba Parno membelokkan becaknya masuk ke dalam gedung tua itu.

“Lho kenapa masuk sini Pak?”, tanya Monik.

“Hujan..”, jawab Parno sambil menghentikan becaknya tepat di tengah-tengah bangunan kuno yang gelap dan sepi itu. Dan memang hujan pun sudah turun dengan derasnya.

Bangunan tersebut adalah bekas pabrik tebu yang dibangun pada jaman belanda dan sekarang sudah tidak dipakai lagi, paling-paling sesekali dipakai untuk gudang warga. Keadaan seperti ini membuat Monik menjadi semakin panik, wajahnya mulai terlihat was-was dan gelisah.

“Tenang.. Tenang.. Kita santai dulu di sini, daripada basah-basahan sama air hujan mending kita basah-basahan keringat..”, ujar Parno sambil menyeringai turun dari tempat kemudi becaknya dan menghampiri Monik yang masih duduk di dalam becak.

Bagai tersambar petir Monikpun kaget mendengar ucapan Parno tadi.

“A.. Apa maksudnya Pak?”, tanya Monik sambil terbengong-bengong.

“Non cantik, kamu mau ini?” Parno tiba-tiba menurunkan celana komprangnya, mengeluarkan penisnya yang telah mengeras dan membesar.

Monik terkejut setengah mati dan tubuhnya seketika lemas ketika melihat pemandangan yang belum pernah dia lihat selama ini.

“J.. Jaangan Pak.. Jangann..” pinta Monik dengan wajah yang memucat.

Sejenak Parno menatap tubuh Monik yang menggairahkan, dengan posisinya yang duduk itu tersingkaplah dari balik rok abu-abu seragam SMU-nya kedua paha Monik yang putih bersih itu. Kaos kaki putih setinggi betis menambah keindahan kaki gadis itu.

Dan di bagian atasnya, kedua buah dada ranum nampak menonjol dari balik baju putih seragamnya yang berukuran ketat.

“Ampunn Pak.. Jangan Pak..”, Monik mulai menangis dalam posisi duduknya sambil merapatkan badan ke sandaran becak, seolah ingin menjaga jarak dengan Parno yang semakin mendekati tubuhnya.

Tubuh Monik mulai menggigil namun bukan karena dinginnya udara saat itu, tetapi tatkala dirasakannya sepasang tangan yang kasar mulai menyentuh pahanya.

Tangannya secara refleks berusaha menampik tangan Parno yang mulai menjamah paha Monik, tapi percuma saja karena kedua tangan Parno dengan kuatnya memegang kedua paha Monik.

“Oohh.. Jangann.. Pak.. Tolongg.. Jangann..”, Monik meronta-ronta dengan menggerak-gerakkan kedua kakinya. Akan tetapi Parno malahan semakin menjadi-jadi, dicengkeramnya erat-erat kedua paha Monik itu sambil merapatkan badannya ke tubuh Monik.

Monik pun menjadi mati kutu sementara isak tangisnya menggema di dalam ruangan yang mulai gelap dan sepi itu. Kedua tangan kasar Parno mulai bergerak mengurut kedua paha mulus itu hingga menyentuh pangkal paha Monik.

Tubuh Monik menggeliat ketika tangan-tangan Parno mulai menggerayangi bagian pangkal paha Monik, dan wajah Monik menyeringai ketika jari-jemari Parno mulai menyusup masuk ke dalam celana dalamnya.

“Iihh..”, pekikan Monik kembali menggema di ruangan itu di saat jari Parno ada yang masuk ke dalam liang vaginanya.

Tubuh Monik menggeliat kencang di saat jari itu mulai mengorek-ngorek lubang kewanitaannya. Desah nafas Parno semakin kencang, dia nampak sangat menikmati adegan ‘pembuka’ ini. Ditatapnya wajah Monik yang megap-megap dengan tubuh yang menggeliat-geliat akibat jari tengah Parno yang menari-nari di dalam lubang kemaluannya.

“Cep.. Cep.. Cep..”, terdengar suara dari bagian selangkangan Monik. Saat ini lubang kemaluan Monik telah banjir oleh cairan kemaluannya yang mengucur membasahi selangkangan dan jari-jari Parno.

Puas dengan adegan ‘pembuka’ ini, Parno mencabut jarinya dari lubang kemaluan Monik. Monik nampak terengah-engah, air matanya juga meleleh membasahi pipinya. Parno kemudian menarik tubuh Monik turun dari becak, gadis itu dipeluknya erat-erat, kedua tangannya meremas-remas pantat gadis itu yang sintal sementara Monik hanya bisa terdiam pasrah, detak jantungnya terasa di sekujur tubuhnya yang gemetaran itu. Parno juga menikmati wanginya tubuh Monik sambil terus meremas remas pantat gadis itu.

Selanjutnya Parno mulai menikmati bibir Monik yang tebal dan sensual itu, dikulumnya bibir itu dengan rakus bak seseorang yang tengah kelaparan melahap makanan.

“Eemmgghh.. Mmpphh..”, Monik mendesah-desah di saat Parno melumat bibirnya. Dikulum-kulum, digigit-gigitnya bibir Monik oleh gigi dan bibir Parno yang kasar dan bau rokok itu. Ciuman Parno pun bergeser ke bagian leher gadis itu.

“Oohh.. Eenngghh..”, Monik mengerang-ngerang di saat lehernya dikecup dan dihisap-hisap oleh Parno.

Cengkeraman Parno di tubuh Monik cukup kuat sehingga membuat Monik sulit bernafas apalagi bergerak, dan hal inilah yang membuat Monik pasrah di hadapan Parno yang tengah memperkosanya. Setelah puas, kini kedua tangan kekar Parno meraih kepala Monik dan menekan tubuh Monik ke bawah sehingga posisinya berlutut di hadapan tubuh Parno yang berdiri tegak di hadapannya. Langsung saja oleh Parno kepala Monik dihadapkan pada penisnya.

“Ayo.. Jangan macam-macam non cantik.. Buka mulut kamu”, bentak Parno sambil menjambak rambut Monik.

Takut pada bentakan Parno, Monik tak bisa menolak permintaannya. Sambil terisak-isak dia sedikit demi sedikit membuka mulutnya dan segera saja Parno mendorong masuk penisnya ke dalam mulut Monik.

“Hmmphh..”, Monik mendesah lagi ketika benda menjijikkan itu masuk ke dalam mulutnya hingga pipi Monik menggelembung karena batang kemaluan Parno yang menyumpalnya.

“Akhh..” sebaliknya Parno mengerang nikmat. Kepalanya menengadah keatas merasakan hangat dan lembutnya rongga mulut Monik di sekujur batang kemaluannya yang menyumpal di mulut Monik.

Monik menangis tak berdaya menahan gejolak nafsu Parno. Sementara kedua tangan Parno yang masih mencengkeram erat kepala Monik mulai menggerakkan kepala Monik maju mundur, mengocok penisnya dengan mulut Monik. Suara berdecak-decak dari liur Monik terdengar jelas diselingi batuk-batuk.

Beberapa menit lamanya Parno melakukan hal itu kepada Monik, dia nampak benar-benar menikmati. Tiba-tiba badan Parno mengejang, kedua tangannya menggerakkan kepala Monik semakin cepat sambil menjambak-jambak rambut Monik. Wajah Parno menyeringai, mulutnya menganga, matanya terpejam erat dan..

“Aakkhh..”, Parno melengking, croot.. croott.. crroott..

Seiring dengan muncratnya cairan putih kental dari kemaluan Parno yang mengisi mulut Monik yang terkejut menerima muntahan cairan itu. Monik berusaha melepaskan batang penis Parno dari dalam mulutnya namun

Untuk baca cerita selanjutnya klik disini


Demikianlah Artikel Cerita Dewasa Sosok Yang Supel dan Genit

Sekianlah artikel Cerita Dewasa Sosok Yang Supel dan Genit kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Cerita Dewasa Sosok Yang Supel dan Genit dengan alamat link https://memekmekar.blogspot.com/2019/03/cerita-dewasa-sosok-yang-supel-dan-genit.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar